Cerita Lungguh
Satu meja untuk makan dan menonton.
Lungguh dimulai dari pertanyaan sederhana: kenapa makanan lokal yang terjangkau dan ruang indoor yang nyaman harus terasa seperti dua bisnis berbeda?
Nonton.
Rukun.
Kami membawa kebiasaan angkringan ke dalam rumah: porsi bisa dirangkai, harga terbaca, dan orang boleh duduk lebih lama tanpa harus memesan menu mahal.
Nobar kami anggap sebagai program tetangga. Bukan panggung besar, bukan sports bar. Hanya layar yang cukup jelas, suara yang cukup ramai, dan meja rendah untuk berbagi gorengan.
Dapur kami bekerja dengan pemasok dekat supaya pembelian lebih mudah dipantau dan uang belanja berputar di sekitar. Detailnya ada di meja, bukan di slogan.
Prinsip dapur
Masak secukupnya
Beli sedekat mungkin
Harga dibaca sebelum duduk
Air minum mudah ditemukan
Ruang ramai tetap dijaga bersih
Mitra yang menyuplai
Tetangga yang punya nama.
Dapur Bu Yati
Nasi bungkus & sambal
Datang setiap pagi untuk nasi, sambal, dan lauk rumahan. Kami pesan sesuai perkiraan porsi agar tidak banyak tersisa.
Tahu Pak Darto
Tahu & tempe harian
Diantar enam hari seminggu dari gang sebelah. Teksturnya pas untuk mendoan dan oseng.
Kebun Sari
Jahe, serai, & jeruk
Bumbu wedang dibeli mingguan dari kebun keluarga sekitar. Segar, mudah dilacak, dan tidak perlu perjalanan jauh.
Roti Kampung 47
Kudapan titip jual
Roti dan jajanan sore dititipkan setiap siang. Bagi hasilnya langsung dengan pembuatnya.
Catatan: nama mitra di halaman ini adalah sample content dan perlu diganti dengan data kerja sama yang sebenarnya.